Apa Itu Bencana ?

Apa Itu Bencana ?
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan / atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
( Definisi bencana menurut UU No. 24 Tahun 2007 )
Bencana merupakan pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan kemampuan yang dipicu oleh suatu kejadian. Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disester) atau oleh kelalaian manusia (man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menimbulkan bencana adalah :
Natural Hazards dan men-made hazards. Menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi,  bahaya hidrometeorologi, bahaya biologi, bahaya teknologi dan penurunan kualitas lingkungan.

Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrestruktur serta elemen-elemen di dalam kawasan yang berisiko bencana, serta kapasitas yang rendah di dalam masyarakat dalam mempersiapkan dan menghadapi risiko bencana.

Kita dapat meningkatkan kualitas kewaspadaan pada masyarakat Indonesia dan memulainya dengan membaca buku kecil ini. Informasi mengenai persiapan dan cara penanggulangan delapan bencana alam di Indonesia akan dipaparkan selanjutnya.

Sejarah
Indonesia memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap bencana, cermati saja kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografisnya. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki 17.508 pulau yang terletak di antara dua benua (Asia dan Australia), dan laut (Laut Hindia dan Pasifik), dan merupakan pertemuan 3 lempeng utama dunia yaitu lempeng Indo Australia, Eurasia dan Pasifik. Indonesia pun mempunyai 150 aliran sungai dan 129 gunung api aktif (80 gunung aktif berstatus berbahaya).

Jenis bencana mencakup bencana alam, penyakit pandemik, kegagalan teknologi dan kecelakaan, serta bencana sosial (seperti kerusuhan atau teror). Buku saku ini akan memaparkan persiapan dan penanggulangan bencana alam yang sering melanda Indonesia yaitu, angin topan, banjir, gempa bumi, kebakaran, kekeringan, letusan gunung berapi, longsor, dan tsunami.

Sejak tahun 1980 hingga 2010 telah terjadi 321 kejadian bencana alam, yang terbanyak adalah bencana banjir yang melanda 118 kali. Jumlah korban jiwa secara keseluruhan mencapai 192.474 orang dan kerugian materil hingga 211 trilyun rupiah. Adapun bencana alam terbesar dalam 3 dekade terakhir adalah gempa bumi dan tsunami yang melanda saudara kita di Nangroe Aceh Darussalam di tahun 2004.

Pemerintah memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana. Kesadaran pemerintah terhadap upaya penanggulangan telah dimulai sejak zaman kemerdekaan dan terus berkembang sesuai zaman.

Sejak tahun 2008, Peraturan Presiden Ri Nomor 8 tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPN) diberlakukan. Pembentukannya merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Bersama BNPN, mari kita bersiap menghadapi resiko bencana di Bumi Indonesia.

ANGIN PUTING BELIUNG
Angin putting beliung adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan 120 km/jam atau lebih. Angina putting beliung sering terjadi di wilayah tropis antara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa. Bencana ini disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu system cuaca.

Angin putting brliung yang bergerak dari laut dapat mengaduk air laut di bawahnya dan menyebabkan gelombang besar (badai). Di pusat  badai, mata angina yang  bertekanan rendah akan membentuk kubah air yang tinggi. Kubah air ini akan menjadi banjir bila angina badai menghantam daratan.

Angin puting beliung tropis dapat terjadi secara mendadak tetapi sebagian besar terbentuk melalui proses selama bebeapa jam atau beberapa hari. Monitoring degan satelit cuaca dapat dilakukan untuk mengetahui arah angin puting beliung sehingga terdapat cukup waktu memberi peringatan dini.
Tanda-tanda terjadinya angin puting beliung adalah terlihat gumpalan awan yang gelas, besar, dan tinggi; terlihat beberapa kali sambaran petir; serta terdengar suara gemuruh dari kejauhan.

Langkah persiapan yang harus dilakukan adalah :

  1. Membuat struktur rumah atau bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk mampu bertahan terhadap gaya angin.
  2. Memperkuat bagian-bagian rumah yang mudah diterbangkan angin seperti atap rumah.
  3. Untuk para nelayan, supaya menambatkan atau mengikat kuat kapal-kapalnya.
  4. Membuat rencana komunikasi darurat dan rencana penyelamatan diri apabila angin puting beliung terjadi.
  5. Memperhatikan berita mengenai perubahan cuaca dan kemungkinan pergerakan angin puting beliung.

Hal yang dilakukan apabila angin Puting Beliung menerjang wilayah Anda :
Bila sedang di dalam ruangan (rumah, sekolah, perkantoran, dll)

  1. Tutup dan kunci pintu serta jendela
  2. Matikan semua aliran listrik pada peralatan elektronik
  3. Berlindunglah di ruang bawah tanah, atau di tengah ruangan. JANGAN MENDEKATI PINTU ATAU JENDELA!

Bila sedang dalam kendaraan (kendaraan pribadi, bus, kereta, dll)

  1. Sehera hentikan kendaraan dan keluar dari kendaraan untuk berlindung ke dalam ruangan terdekat.

Bila sedang di luar ruangan dan tidak ada tempat berlindung :

  1. Duduk berlutut dan lindungi kepala dengan tangan
  2. JANGAN TIARAP DI ATAS TANAH
  3. Hindari bangunan, tiang listrik, papan reklame untuk menghindarkan diri dari reruntuhan benda.
  4. JANGAN BERLINDUNG DI BAWAH JEMBATAN. Lebih baik mencari dataran rendah yang luas dan datar.

Hal-hal yang harus dilakukan setelah terjadi angin puting beliung adalah :

  1. Pastikan tidak ada anggota keluarga dan orang-orang disekitar anda yang cedera.
  2. Bila jatuh korban, segera berikan pertolongan darurat. Jadilah tenaga sukarelawan untuk membantu petugas di sekitar komunitas anda.
  3. Laporkan segera kepada yang berwenang jika ada kerusakan yang berhubungan dengan listrik, gas dan kerusakan lainnya.
  4. Hati-hati ketika kembali ke rumah atau masuk ke dalam bangunan lain apabila akan mengecek kerusakan bangunan.
  5. Bersihkan puing-puing dan bekas reruntuhan dengan menggunakan alat yang aman.
  6. Terus ikuti perkembangan informasi mengenai kejadian pasca bencana angin puting beliung.

BANJIR
Banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Definisi banjir adalah keadaan dimana suatu daerah tergenang oleh air dalam jumlah yang besar. Kedatangan banjir dapat diprediksi dengan memperhatikan curah hujan dan aliran air. Namun kadangkala banjir  dapat datang tiba-tiba akibat dari angina badai atau kebocoran tanggul yang dapat disebut banjir bandang.

Penyebab banjir mencakup curah hujan yang tinggi; permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut; wilayah terletak pada suatu cekungan  yang dikelilingi perbukitan dengan sedikit resapan air; pendirian bangunan sepanjang bantaran sungai; aliran sungai tidak lancer akibat terhambat oleh sampah; serta kekurangan tutupan lahan di daerah hulu sungai. Meskipun berada di wilayah “bukan langganan banjir”, setiap orang harus tetap waspada dengan kemungkinan bencana alam ini.

Sebagai langkah persiapan yang harus dilakukan adalah :

  1. Menata daerah aliran sungai dari hulu ke hilir secara terpadu sesuai dengan fungsi lahan.
  2. Pembangunan system pamantauan dari peringatan diri dari wilayah yang sering terkena banjir.
  3. Memasang pompa dan penghalang ombak untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.
  4. JANGAN MEMBANGUN RUMAH DI BANTARAN SUNGI.
  5. JANGAN MEMBUANG SAMPAH KE SUNGAI.

Persiapan di tingkat komunitas adalah :

  1. Bersama aparat setempat membersihkan lingkungan sekitar, terutama pada saluran air atau selokan dari sampah.
  2. Tentukan lokasi Posko Banjir yang tepat untuk pengungsian. Lengkapi dengan fasilitas alat evakuasi, dapur umum, MCK, dan pasokan air bersih.
  3. Bentuklah tim penanggulangan banjir di tingkat warga.

Sedangkan persiapan yang harus dilakukan dalam keluarga adalah :

  1. Bila memungkinkan tinggikan bangunan rumah, buat dinding penghalang bajir, dan lindungi rumah dengan cat waterproof.
  2. Amankan dokumen penting seperti : akte kelahiran, kartu keluarga, buku tabungan, sertifikat dan benda-benda berharga dari jangkauan air.
  3. Buatlah rencana penyelamatan dan komunikasi apabila banjir dating.
  4. Persiapkan ketersediaan air bersih, P3K, dan alat evakuasi standar.

Apabila terjadi banjir, Hal-hal yang harus dilakukan adalah :

  1. Matikan aliran listrik di dalam rumah dan dan hubungi petugas PLN untuk mematikan aliran listrik.
  2. Segera mengamankan barang-barang berharga ke tempat lebih tinggi.
  3. Mengungsi ke daerah yang lebih tinggi sedini mungkin. Apabila akan meninggalkan rumah, pastikan dalam keadaan terkunci dan aman.
  4. JANGAN BERJALAN ATAU BERKENDARA DI ALIRAN BANJIR UNTUK MENGHINDARI TERSERET ARUS.

Hal-hal yang harus dilakukan setelah terjadi banjir adalah :

  1. Secepatnya membersihkan rumah dan halaman dari sisa air banjir, lumpur dan sampah.
  2. Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular, lipan, tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk yang ikut terbawa aliran banjir.
  3. Gunakan antiseptic untuk membunuh kuman penyakit.
  4. Segera gunakan persediaan air bersih untuk mengurangi risiko diaer karena penyakit ini paling sering menjakiti korban banjir.
  5. Terus mengikuti perkembangan informasi mengenai banjir dari media serta petugas di komunitas anda.

GEMPA BUMI

Gempa bumi merupaka peristiwa pelepasan energy yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Penyebab terjadinya gempa bumi mencakup proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi; aktivitas sesar di permukaan bumi; pergerakan geomorfologi secara local (contohnya terjadi runtuhan tanah); aktivitas gunung api; dan ledakan Nuklir.

LETUSAN GUNUNG BERAPI

Letusan gunung berapi adalah bagian dari aktivitas vulkanik yang disebut “erupsi”. Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif. Erupsi dimulai ketika pada batas lempengan bumi terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material disekitarnya, yaitu cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah melalui rekahan-rekahan, lalu keluar mendekati permukaan bumi.

Bahaya letusan gunung berapi dibagi menjadi dua berdasarkan waktu kejadiannya, yaitu bahaya primer dan sekunder.
Berikut enam bahaya primer dari letusan gunung berapi :

  1. Awan Panas: merupakan campuran material letusan antara gas dan bebatuan (segala ukuran) yang terdorong kebawah akibat densitas tinggi. Suhu mencapai 300-700 derajar celcius, kecepatan awan panas lebih dari 70 km/jam.
  2. Lontaran material (pijar): terjadi ketika letusan magmatic berlangsung. Suhu mencapa 200 derajat celcius, diameter lebih dari 10 cm dengan daya lontar ratusan kilometer. Lazim juga disebut sebagai “bom vulkanik”.
  3. Hujan abu lebat: terjadi ketika letusan gunung api sedang berlangsung. Material berukuran halus (abu dan pasir halus) yang diterbangkan angina dan jatuh sebagai hujan abu, arahnya tergantung dari arah angina.
  4. Lava: merupakan magma yang mencapai permukaan. Sifatnya liquid dengan suhu antara 700-1200 derajat celcius. Lava mengalir mengikuti lereng dan akan menbatu bila telah dingin.
  5. Gas racun: muncul tidak selalu didahului letusan gunung api sebab gas ini dapat keluar melalui rekahan-rekahan. Gas utama yang bisasanya muncul adalah CO2, H2S, HCI, SO2, dan CO.
  6. Tsunami: kasus khusus yang terjadi pada gunung berapi di pulau. Saat letusan terjadi, material-material akan memberikan energi yang besar untuk mendorong air laut kearah pantai. Contoh kasusnya adalah letusan Gunung Krakatau di tahun 1883.

Sedangkan bahaya sekunder setelah gunung api meletus adalah penumpukan material bumi yang terbawa oleh air hujan berupa lahar, lumpur dan banjir bebatuan. Untuk mengurangi dampak dari kejadian letusan gunuing berapi, pemerintah melakukan kegiatan preventif berupa pemantauan aktivitas gunung api selama 24 jam menggunakan alat pencatat gempa (seismograf); melakukan tindakan tanggap darurat; dan membuat Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Berapi.

Sebagai langkah persiapan, bagi yang tinggal disekitar gunung berapi :

  1. Membuat rencana penyelamatan dan komunikasi bagi keluarga untuk menghadapi risiko terjadinya letusan gunung berapi.
  2. Kenali gunung api aktif di sekitar anda dan tentukan lokasi pengungsian yang aman bagi anggota komunitas anda.

Apabila letusan gunung berapi terjadi di area anda, hal-hal yang harus dilakukan adalah :

  1. Gunakan masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
  2. Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi, dan lainnya.
  3. Jangan memakai lensa kontak.
  4. Apabila sedang berada di dalam ruangan, tutup pintu dan jendela. Segera mengungsi dan bantu anggota di komunitas anda untuk turut mengungsi dengan aman.
  5. Apabila sedang berada di tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas.
  6. Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
  7. Ikuti petunjuk penyelamatan dari petugas selama proses evakuasi.
  8. Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan.

Hal-hal yang harus anda lakukan setelah terjadi letusan gunung berapi adalah :

  1. Tetap dipengungsian hingga petugas menyatakan aman untuk kembali ke rumah anda
  2. Bersihkan atap dari timbunan abu karena berat abu bias merusak atau meruntuhkan atap bangunan
  3. Ikuti perkembangan informasi mengenai keadaan pasca bencana dari media dan petugas disekitar anda.

KEBAKARAN dan KEBAKARAN HUTAN

Kebakaran merupakan bencana yang lebih banyak disebabkan oleh kelalaian manusia (human error). Kebakaran terjadi dengan cepat, dalam tiga puluh detik percikan api kecil dapat berubah menjadi tidak terkendali, selain resiko kebakaran, menghirup asap dalam jumlah besar pun dapat menyebabkan risiko yang fatal bagi manusia.

Kebakaran dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kelas A, kelas B, dan kelas C.
(A) Disebabkan oleh benda-benda padat, misalnya : kertas, kayu, plastic, karet, busa dan lain-lainnya. Media pemadaman : Air, pasir, karung goni yang dibasahi, dan alat pemadam kebakaran (APAR) atau racun api tepung kimia kering
(B) Disebabkan oleh cairan yang mudah terbakar, misalnya : bensin, solar, minyak tanah, spirtus, alcohol, dan lain-lainnya. Media pemadaman : pasir dan alat pemadam kebakaran (APAR), atau racun api tepung kimia kering. Dilarang memakai air untuk jenis ini karena berat jenis air lebih tinggi dari berat jenis bahan-bahan di atas.
(C) Disebabkan oleh listrik. Media pemadaman : alat pemadam kebakaran (APAR) atau racun api tepung kimia kering.

Sebagai Langkah persiapan, yang harus dilakukan adalah :

  1. Membuat rencana penyelamatan dan komunikasi bagi keluarga untuk menghadapi risiko terjadinya kebakaran
  2. Buatlah skema jalur evakuasi di rumah, sekolah, kantor, atau bangunan lainnya apabila kebakaran terjadi tiba-tiba
  3. Hindarkan peralatan dan bahan yang mudah terbakar dari jangkauan anak-anak
  4. Periksa kondisi tungku masak(kompor minyak atau kompor gas, selang, tabung, dll) segera ganti apabila ada komponen yang rapuh atau bocor
  5. PERHATIKAN INSTALASI LISTRIK. Periksa secara berkala instalasi listrik di rumah Anda. Apabila terdapat kabel, sambungan atau stop kontak yang rusak : segera perbaiki atau ganti.
  6. Simpanlah barang-barang yang mudah terbakar secara hati-hati
  7. Pada saat lampu padam, jangan letakkan lilin pada bahan yang mudah terbakar (kasur, kain, kayu)
  8. Hindari penggunaan peralatan listrik melebihi beban kapasitas meter listrik. Pemasangan istalasi listrik dengan terlalu banyak sambungan (memakai isolasi) akan mudah memuai dan merupakan penyebab utama kebakaran kelas C.

Apabila kebakaran terjadi, Hal-hal yang harus dilakukan adalah :

  1. Apabila anda mendengarkan alarm kebakaran, segera keluar dari bangunan melalui jalur evakuasi yang aman
  2. Apabila pakaian anda terbakar, segera berhenti dan berguling-gulinglah hingga api padam. Lindungi muka dengan tangan
  3. Dahulukan keselamatan jiwa anda sebelum menolong orang lain yang terjebak dalam kebakaran
  4. Segera telpon pemadam kebakaran dan bantu padamkan api dengan cara yang aman.

Hal-hal yang harus  Anda  lakukan setelah kebakaran berakhir :

  1. Setelah api seluruhnya padam, jangan langsung masuk ke dalam bangunan,. Waspada terhadap kerusakan bangunan akibat kebakaran, cek kekuatan bangunan.
  2. Inventaris barang-barang dan dan dokumen penting dalam rumah Anda sebelum memilah mana yang akan dibuang.
  3. Bersihkan sisa abu dan reruntuhan dengan menggunakan masker dan sarung tangan untuk menghindari hirupan debu.

Adapun kebakaran hutan di Indonesia merupakan kedua yang terbesar di Asia Tenggara. Kawasan hutan hujan tropis memiliki titik-titik panas yang berpotensi memicu kebakaran hutan secara luas. Selain factor cuaca, kebakaran hutan juga disebabkan oleh pembakaran hutan oleh peladang.

BANTU KAMPANYE PENYELAMATAN HUTAN INDONESIA agar hutan kita terus lestari.

Penyebab terjadinya kebakaran hutan :

  1. Membersihkan lahan hutan dengan membakar (slash and burn)
  2. Membiarkan api yang tidak terawasi, seperti misalnya puntung rokok yang dibuang sembarangan atau api unggun yang ditingalkan saat masih menyala.

Jika terjadi kebakaran hutan, segeralah :

  1. Hubungi pemadam kebakaran;
  2. Memperingatkan kepada warga yang lain untuk  menyelamatkan diri;
  3. Membantu usaha memadamkan api dengan peralatan yang ada.

Risiko korban & kerugian akibat kebakaran  dapat diperkecil dengan :

  1. Membersihkan lahan untuk ladang  tanpa menggunakan api;
  2. Jika terpaksa menggunakan api unutuk membersihkan lahan, harus dikendalikan dan diawasi

TANAH LONGSOR

Longsoran merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan menuruni atau keluar lereng. Tanah longsor terjadi karena adanya gangguan kestabilan pada tanah  dan batuan menyusun lereng. Penyebab longsoran dapt dibedakan menjadi penyebab yang berupa factor pengontrol gangguan kestabilan lereng dan proses pemicu longsoran.

Gangguan kestabilan lereng ini dikontrol oleh kondisi morfologi (terutama kemiringan lereng), kondisi batuan ataupun tanah penyusun lereng dan kondisi hidrologi pada lereng. Meskipun suatu lereng rentan atau berpotensi untuk longsor, namun lereng tersebut belum akan longsor tanpa dipicu oleh proses pemicu.
Proses pemicu longsoran dapat berupa :

  1. Peningkatan kandungan air dalam lereng, sehingga terjadi akumulasi air yang merenggankan ikatan antar butir tanah dan akhirnya mendorong butir-butir tanah untuk longsor
  2. Getaran pada lereng akibat gempa bumi ataupun ledakan
  3. Peningkatan beban yang melampaui daya dukung tanah atau kuat geser tanah
  4. Pemotongan kaki lereng secara sembarangan yang mengakibatkan lereng kehilangan gaya penyangga.

Sebagai langkah persiapan, yang harus dilakukan adalah :

  1. Buatlah rencana penyelamatan dan komunikasi untuk mengahadapi risiko tanah longsor
  2. Kenali daerah tempat tinggal kita sehingga jika terdapat ciri-ciri daerah rawan longsor kita dapat menghindari
  3. Perbaiki tata air dan tata guna lahan disekitar lereng
  4. Tanami daerah lereng dengan tanaman  yang system perakarannya dalam (akar tunggang)
  5. Tutup retakan-retakan yang timbul di atas tebing dengan material lempeng untuk mencegah air masuk ke dalam tanah
  6. Waspada terhadap mata air atau rembesan dan kejadian longsor skala kecil disepanjang lereng
  7. Jangan mendirikan bangunan di atas lereng rawan longsor
  8. Jangan mencetak kolah atau sawah irigasi di atas dan pada rawan longsor
  9. Jangan melakukan penggalian di sekitar kaki lereng yang rawan longsor
  10. Jangan menebang pohon sembarangan pada dan disekitar lereng yang rawan longsor

Bencana tanah longsor pada umumnya terjadi secara mendadak padasaat atau setelah terjadi hujan. Kejadian longsor pada umumnya terjadi dengan diikuti suara gemuruh, disertai gerakan massa tanah atau batuan yang meluncur sangat cepat kebawah bukit menyapu apa yang dilewati.

Apabila longsor tiba-tiba terjadi :

  1. Tetap awas apabila anda berada dikawasan rawan longsor ketika hujan besar tiba
  2. SEGERA EVAKUASI penduduk jika tebing telah menunjukkan gejala akan longsor. Hindari jalur-jalur sungai dan lereng ketika menuju tempat pengungsian
  3. Bila tidak dapt menyelamatkan diri, segera mengambil posisi meringkuk seperti bola dan melindungi kepala.

Hal-hal yang harus dilakukan setelah terjadi longsor adalah :

  1. Lakukan evakuasi korban yang tertimbun secara hati-hati, karena penggalian pada timbunan dapat memicu terjadinya longsoran baru
  2. Lakukan evakuasi penduduk yang tinggal d idaerah  bahaya ke tempat penampungan yang aman
  3. Cari sumber-sumber air bersih yang dapt dimanfaatkan untuk daerah penampungan yang aman
  4. Segera hubungi pihak terkait seperti Kepal Desa, Lurah atau Camat sehingga kejadian bencana dapat ditangai dengan segera  secara terkoordinasi
  5. Ikuti informasi perkembangan cuaca dan informasi paska bencana. Jadilah sukarelawan untuk membantu komunitas anda cepat pulih paska bencana.

TSUNAMI

Tsunami berasal dari bahasa Jepang “tsu” berarti pelabuhan “nami” berarti gelombang sehingga secara umum diartikan sebagai pasang laut yang besar di pelabuhan.
Tsunami dapat diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan impulsif tersebut bias berupa gempa bumi tektonik, erupsi vilkanik atau longsoran. Kecepatan tsunami yang naik de daratan sekitar 25-100 km/jam dan ketinggian air mencapai 20 samapai 36 meter.

Penyebab terjadinya tsunami adalah gempa bumi yang diikuti dengan dislokasi, perpindahan massa tanah, batuan yang sangan besar di bawah air (laut/danau); tanah longsor di dalam laut; dan letusan gunung api di bawah laut atau gunung api pulau.
Gejala dan peringatan dini :

  1. Kejadian mendadak dan pada umumnya di Indonesia didahului dengan gempa bumi besar dan susutnya air laut ke tengah lautan
  2. Terdapat selang waktu antara waktu terjadinya gempa bumi sebagai sumber tsunami dan waktu tiba tsunami di pantai mengingat kecepatan kelombang gempa jauh lebih besar dibandingkan kecepatan tsunami. Di Indonesia pada umunya tsunami terjadi dalam waktu karang dari 40 menit setelah terjadinya gempa bumi.

Sebagai langkah persiapan, yang harus dilakukan adalah :

  1. Persiapkan rencana penyelamatan untuk mengahadapi risiko tsunami
  2. Lakukan simulasi penyelamatan diri sebagai latihan evakuasi dan penyelamatan diri bila tsunami terjadi
  3. Tanam mangrove serta tanama lainnya  sepanjang garis pantai untuk meredam air tsunami
  4. Kenali wilayah dan buatlah rute evakuasi
  5. Melapor secepatnya jika mengetahui tanda-tanda akan terjadi tsunami kepada petugas yang  berwenang: Kepala Desa, Polisi BPBD Stasiun Radio< SATLAK PB maupun institusi terkait
  6. Jika anda turis yang sedang berwisata di kawasan pantai, pahami protocol keselamatan di wilayah setempat.

Hal-hal yang harus dilakukan selama bencana Tsunami terjadi adalah :

  1. JANGAN MENDEKATI PANTAI
  2. Setelah merasakan gempa bumi, segera menyelamatkan diri ke dataran yang lebih tinggi
  3. Pergilah ke dataran tinggi minimal tiga puluh meter di atas permukaan laut. Bila memungkinkan pergilah ketempat yang lebih tinggi dan lebih jauh dari garis pantai
  4. Berikan prioritas bantuan kepada orang lain, khususnya bagi anak-anak, wanita hamil, orang lanjut usia, dan orang dengan kebutuhan khusus selama proses evakuasi
  5. Utamakan keselamatan diri diatas barang-barang berharga.

Hal yang harus dilakukan setelah terjadi Tsunami adalah :

  1. Perhatikan cidera yang dialami diri sendiri dan coba untuk mendapatkan pertolongan pertama sebelum membantu orang lain yang terluka atau terjebak dalam reruntuhan
  2. Jangan kembali ke rumah sebelum dinyatakan aman
  3. Perhatikan kekuatan bangunan atau rumah sebelum masuk untuk menghindari runtuhan bangunan
  4. Hindari puing-puing yang terbawa arus  karena dimungkinkan terdapat benda yang berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan.
Templates Joomla 1.5