BPBD Bone Siagakan Personel Antisipasi Bencana

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bone menyiagakan personel untuk menghadapi setiap bencana alam yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bone MISRIATY KADIR, S.P., M. Si. mengatakan ada 8 personel disiagakan di Posko Terpadu Emergency Centre yang disebut Posko SAO MASIGA yang berlokasi di Jalan Jend.Ahmad Yani Watampone.

Tak hanya itu, armada juga disiagakan selama 24 jam. Ini belum termasuk personel yang siaga di kantor BPBD sebanyak 4 orang perkelompok . Mereka melakukan penjagaan secara bergantian.

” Kami selalu antisipasi dengan karakteristik yang terjadi di wilayah kami  atau yang biasa terjadi pada tahun sebelumnya. Seperti banjir, puting beliung, dan longsor,” kata Misriaty.

Kalau puting beliung biasanya terjadi semua wilayah berpotensi. Kalau banjir biasanya selalu terjadi di bagian Bone Utara dan Sibulue.

Kemudian longsor biasanya terjadi di daerah dataran tinggi seperti Kecamatan Bontocani dan Ponre.

“Kami selalu menerima informasi dari BMKG setiap saat untuk mengetahui keadaan dan kejadian khususnya di Sulsel dan utamanya Kabupaten Bone. Ini masih aman saja,” Ungkapnya.

Terkait prediksi BNPB adanya kemungkinan terjadi 2.500 bencana di Tanah Air selama tahun 2019, Misriaty menegaskan pihaknya selalu siap siaga, namun demikian ia berharap prakiraan itu tidak terjadi.

“Mudah-mudahan itu tidak terjadi, tapi kami juga selalu siap siaga ketika ada laporan dari masyarakat atau pemerintah setempat” Ungkapnya

Sebelumnya, BNPB memprediksi akan terjadi bencana sepanjang tahun 2019. Bencana alam ini akan didominasi hidrometerologi angkanya sekira 95 persen dari seluruh bencana.

Kita prediksikan selama tahun 2019 lebih dari 2.500 kejadian bencana yang terjadi  di seluruh wilayah Indonesia. Paling dominan adalah bencana hidrometerologi, seperti banjir, longsor, dan puting beliung, kata sutopo, Rabu, 2 Januari 2019.

Bencana hidrometerologi merupakan bencana yang terjadi sebagai dampak fenomena seperti hujan lebat , angin kencang, dan gelombang tinggi.

Ini disebabkan luasnya kerusakan DAS dan lahan kritis. Selain itu laju kerusakan hutan, kerusakan lingkungan, dan perubahan penggunaan lahan.

Menurut Sutopo, rata rata laju perubahan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian sebesar 110 ribu hektare terjadi pertahunnya. Sedangkan luas lahan kritis sekitar 14 juta hektare.

Banjir dan longsor masih akan terjadi di daerah-daerah rawan banjir dan rawan longsor  sesuai peta rawan longsor dan banjir.

“Kemudian kebakaran hutan dan lahan masih akan terjadi tetapi dapat di atasi dengan baik, dan adapun untuk prediksi musim tahun 2019, masih akan normal,” ungkapnya.

Menurutnya, tidak ada El Nino dan La Nina yang menguat intensitasnya, sehingga musim penghujan dan kemarau masih bersifat normal.

Prediksi selama 2019 musim akan normal, tidak ada El Nino dan La Nina yg menguat intensitasnya, terang Sutopo.

“Meskipun demikian kita tetap harus waspada terhadap segala kemungkinan bencana yang bisa terjadi utamnya menghadapi musim hujan di sepanjang tahun ini” harapnya